Taufiq Ismail, Idris Sardi, Elly Kasim, seorang tokoh.

8 11 2009

Dear readers,

SUMBAR BANGKIT, itulah tema event yang diselenggarakan Insan Pariwisata Sumatera Barat dan IKMR (Ikatan Keluarga Minang Riau). Kebetulan gua juga berada di sana, sebagai seorang wakil dari Kimpar (Komunitas Insan Muda Pariwisata). Acara itu juga menghadirkan Taufiq Ismail, Idris Sardi, dan Elly Kasim sebagai bintang tamu.

Well, sebenarnya gua bukan pengen cerita tentang eventnya, tetapi kali ini, gua pengen banget nulis tentang tokoh-tokoh yang gua temui di sana. Cukup dengan satu faktor, yaitu kesediaan mereka hadir di acara ini saja, gua udah salut banget. Ditambah lagi, kesediaan mereka mengisi acara tanpa ada embel-embel apapun di belakang, sebuah kebanggaan bagi gua sebagai bangsa Indonesia yang punya tokoh-tokoh super seperti mereka.

Yang pertama, Taufiq Ismail. Wah, jangan ditanya lagi siapa sih beliau? Satu Indonesia pasti udah tahu apa aja yang sudah beliau berikan terhadap bangsa dan negara kita. Ya, budayawan terkenal Taufiq Ismail, –yang dengan senang hati berkenan menjadi tokoh idola gua– hadir di acara tersebut dan menyumbangkan sebuah puisinya buat Sumatera Barat tercinta. Puisi itu berkesan banget di hati gua, memang beliau tidak banyak menggunakan metafora yang sulit dan meluap-luap. Tetapi kesederhanaan yang beliau tawarkan dalam puisi itu benar-benar mengena di hati gua. Setiap larik-larik puisi beliau membuat gua serasa berada di tempat yang beliau ceritakan. Diakhir acara, kami dari Kimpar sempat bercakap-cakap dengan beliau. Dan disana terasa banget kesederhanaan beliau, dan juga semangat mudanya.

 

“Tos dulu!!!” seru beliau. Gua teringat fragmen percakapan kami dengan Ayah Taufiq (begitu beliau biasa dipanggil).

Oh, ya! Gua juga berhasil minta tanda tangan beliau dan berfoto bersama, setelah beberapa jam sebelumnya gua bersumpah: KALAU GUA NGGAK DAPETIN TANDA TANGAN DAN FOTO BERSAMA TAUFIQ ISMAIL, GUA NGGAK AKAN TIDUR DI RUMAH MALAM INI!!!!

Dan untung kejadian itu nggak terjadi, karena gua BARU SADAR bahwa NGGAK ADA SURAU ATAU MUSHALLA YANG BUKA JAM 1 MALAM (Thanks God).

 

Kedua, Idris Sardi. Awalnya gua juga belum kenal sama beliau, dan belum meletakkan prioritas atas kedatangan beliau. Tetapi temen gua bilang,

“ELU GIMANA SIH??? MASA GA TAU IDRIS SARDI??? Beliau itu maestro DODOL!!! Seorang pemain biola legendaris Indonesia. Beliau itu besar di Minang loh!!!”

Gua merasa sepandir keledai.

Benar aja, setelah gua denger permainannya, WUIH!!! Gila banget!!! Keren!!! Di umur beliau yang mencapai kepala tujuh, beliau masih mempunyai performa layaknya aksi Barry Prima di tahun 80-an. Gesekan maut beliau serasa masih bisa gua dengar di telinga gua saat ini. Beliau menampilkan beberapa performance diantaranya mengiringi Ayah Taufiq, dengan lagu “Minangkabau” yang beliau mainkan di nada minor. Dan yang dahsyat, penampilan solo beliau memainkan sekaligus beberapa lagu, yang diantaranya: Bunda, Munajat Cinta, When You Tell Me that You Love Me, Dealova, dan lagu-lagu lainnya yang gua juga nggak tahu judulnya. Alunan-alunan nada yang beliau suguhkan benar-benar membuat gua merasakan sensasi orang-orang yang menghisap ganja (walaupun gua nggak tau kayak gimana rasanya) sampai di tahap dimana gua bisa terbang dengan kedua kuping gua dan membuat gua bisa merasakan alunan nada surga yang kalau gua deskripsikan di sini akan berakibat gua mati lemes karena gua nggak akan berhenti nulis sampe seratus halaman!

Me And Idris Sardi

Me and Idris Sardi

Satu hal lagi dari Idris Sardi yang benar-benar jadi inspirasi buat gua. Di masa intermezo, dari satu lagu ke lagu yang lain, di saat orang-orang harus berstanding-applause untuk mengapresiasi penampilan beliau. Beliau melakukan sebuah gestur yang sampai sekarang tiap milidetiknya masih gua rekam di cerebrum. Beliau menunjuk dirinya, lalu mengibas-ngibas tangannya didadanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menunjuk ke atas. Gestur itu gua tangkap dengan makna ”I am nothing, It is God”. Salut banget buat Uda Idirih (orang Minang jarang pakai huruf “S” di akhir kalimat).

Terakhir, last but not least, Bunda Elly Kasim. Yang gua lihat, beliau nggak tambah tua, masih kayak waktu nyanyi sama alm. Tiar Ramon dulu. Gau masih ingat liriknya:

Bapisah bukannyo bacarai.

Usahlah adiak manangih juo.

Basaba sayang nantikan denai.

Taguahkan malah iman di dado.

(Berpisah bukannya bercerai

Janganlah adik menangis juga

Bersabar sayang, tunggulah aku

Teguhkanlah iman didada)

Untung aja gua nggak kehilangan konrol atas syaraf malu gua yang udah tipis banget. Kalau nggak, gua pasti udah ngerebut itu mikrofon dari tangan MC dan nyanyi lagu itu kayak orang sarap di depan semua orang.

Bunda Elly benar-benar mengingatkan gua dengan alm. Tiar Ramon, dan album mereka. Kalau gua tutup mata, gua yakin gua masih bisa ingat tiap potongan video klip mereka, Ayam Den Lapeh, Roda Padati, dan banyak lagi lagu-lagu mereka yang sampai sekarang masih gua nyanyiin sendiri ketika bermotor sendirian, duduk di angkot, atau megang-megang gitar. Sungguh sebuah inspirasi tersendiri buat gua.

Tapi, gua masih benar-benar berpikir, apakah kunjungan mereka ke Bukittinggi, jauh-jauh dari Jakarta itu pantas buat mereka. Is it worth it? Karena audiens yang hadir pada event itu sangat sedikit, bisa gua hitung dengan jari malah. Benar-benar salut banget buat mereka. Semoga amalan mereka diterima sebagai pahala disisi Tuhan Yang Maha Kuasa. Amin.


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar